Kamis, 22 Desember 2016

UPGRIS BERSASTRA

Sastra,  Kehidupan Kedua Bagi Seniman
Selasa,18 Oktober 2016 Balairung Universitas PGRI Semarang di gemparkan oleh deretan penampilan orang-orang hebat. Acara itu di moderatori bapak Dr. Harjito, deretan kritikus yang  mengupas habis buku karangan Triyanto Triwikromo. Tak kalah penampilan bapak rektor dan wakil rektor yang membacakan puisi dengan ciri khas mereka masing-masing.
Acara itu merupakan serangkaian bulan bahasa yang rutin di adakan setiap tahunnya oleh Universitas PGRI Semarang. Mahasiswa dan mahasiwi Universitas PGRI Semarang terpukau oleh penampilan bapak rektor yang menyanyikan puisi yang di iringi petikan gitar yang di mainkan bapak rektor sendiri.
Triyanto Triwikromo memberikan sambutan hangat hingga beliau meneteskan air matanya karena beliau terharu, tidak menyangka karena Universitas PGRI Semarang membuatkan  acara khusus untuk beliau. Beliau berkata bahwa menulis adalah hal yang paling beliau suka,dan berkat menulis beliau bisa belajar banyak hal.Disini judul yang paling menarik perhatian yaitu Bersepeda ke Neraka, judul yang tidak biasa di dengar. Tiga kritikus mengungkapkan judul buku yang paling menarik yaitu Bersepeda ke Neraka. Para kritikus juga mengatakan bahwa buku yang di tulis oleh Triyanto Triwikromo ini sangat sulit di pahami, tidak cukup satu kali baca untuk memahami buku ini.
Mahasiawa UPGRIS juga ikut serta memeriahkan acara Upgris Bersastra itu. Penampilan yang menarik yaitu pembacaan puisi sambil di iringi penari latar yang sangat memukau. Biscuittime, band asala UPGRIS yang sudah memiliki album, dan launching pertama tampil di Balairung.
Pada zaman globalisasi seperti sekarang ini, tidak sedikit orang yang mengetahui tentang sastra. Sebagian besar mereka hanya mampu menikmati sastra, bahkan ada sebagian dari mereka acuh tentang sastra.  Mereka tidak mengetahui bahwa banyak cerminan hidup dalam sastra. Pembaca awam tidak mengetahui proses kelahiran sastra hingga sampai ke tangan pembaca. Penciptaan sebuah karya sastra mengalami proses yang panjang. Proses ini seringkali di abaikan oleh pembaca dan mungkin pula dianggap sepele oleh sebagian penelaah sastra awam. Dimulai dari dorongan pertama untuk menulis,menemukan ide,penggrapan, dan sampai akhirnya di tangan pembaca tentu saja memerlukan semangat  yang luar biasa unruk menjadikan sebuah karya sastra.
Pradopo (2002:59) mengemukakan bahwa karya sastra secara langsung atau tidak langsung di pengaruhi oleh pengalaman dari lingkungan pengarang sendiri. Dalam menciptakan sebuah ide, pengarang harus memikirkan secara matang ide apa yang mau ia kembangkan. Tak sedikit pengarang yang mengambil ide dari sekitar lingkungan mereka. Justru terkadang ide yang berasal dari sekitar lingkungan mereka yang menarik perhatian pembaca. Sebagian besar banyak pembaca yang suka ide yang nge-trend di kalangan masyarakat. Oleh karena itu, banyak pengarang yang harus berpikir keras agar karyanya dapat di nikmati semua kalangan.
Pendapat yang di kemukakan oleh Rusyana, bahwa ada dua tujuan pembelajaran sastra yakni untuk kepentingan ilmu sastra dan tujuan untuk kepentingan pendidikan. Bagi pecinta sastra, perkembangan sastra sekarang ini merupakan wujud suskes dari pengarang yang mampu membius penikmat sastra melalui tulisan pengarang.
Kini bagi kehidupan Triyanto Triwikromo, sastra sudah menjadi bagian dari hidupnya. Sudah banyak buku yang beliau garap, dan tak sedikit orang yang menyukai karya-karyanya. Bgai pecinta sastra, rela menghabiskan uangnya untuk memebeli karangan buku dari idola mereka. Setiap idola mereka membuat karya sastra baru, para penikmat sastra harus wajib punya. Entah apa dorongan mereka yang mengakibatkan hal ini terjadi. Bagi para mahasiswa perguruan tinggi khususnya mereka yang mengambil jurusan sastra, harus mengetahui perkembangan sastra dan tak hanya itu, mereka juga harus mengetahui Sastrawan yang sudah  menghasilkan buku-buku yang populer.
Para keluarga besar UPGRIS sangat menghargai sastra, sehingga tidak bosan-bosan mengadakan acara yang berbau sastra. Oktober, bulan dimana acara Bulan Bahasa di gelar, acara ini bukan hanya UPGRIS Bersastra tetpi juga mengadakan berbagai acara yang melibatkan semua kalangan. Selalu mengapresiasi orang-orang yang berprestasi dan tak hanya itu Upgris juga selalu mengadakan acara  yang menumbuhkan semangat, jiwa sportif dan rasa kekeluargaan yang tinggi. Para mahasiswa UPGRIS di bulan bahasa ini di tuntut untuk berkreasi se-kreatif mungkin. Sastra juga sangat berpengaruh dalam kehidupan seseorang, jika orang tersebut memahami secara mendalam apa itu sastra. Oleh karena itu banyak orang belajar dari karya sastra. Dengan cara menikmati sastra, secara tidak langsung kita sudah menghargai karya seseorang. Dari kita menghargai karya seseorang, kita banyak belajar salah satunya menghargai sesama ciptaan Tuhan. Dari sastra kita banyak belajar,  mendapatkan ilmu.  Acara yang seperti ini harus terus di kembangkan, agar kita tidak lupa karyanyang di hasilkan oleh orang-orang hebat, dengan begitu Sastrawan akan merasa bangga. Dengan begitu, Sastrawan juga akan terus semangat menghasilakn karya yang baru dan tentunya selalu mengandung makna yang berguna untuk pembaca.  Dan tak hanya itu, Karya yang di hasilkan tidak akan punah di makan waktu kalau kita terus mengapresiasi karya sastrawan.

Nama      : Sudariyanti Lestari
NPM        : 15410265
KELAS   : 3F



Tidak ada komentar:

Posting Komentar