Sastra, Kehidupan Kedua Bagi
Seniman
Selasa,18 Oktober 2016 Balairung Universitas PGRI Semarang di
gemparkan oleh deretan penampilan orang-orang hebat. Acara itu di moderatori
bapak Dr. Harjito, deretan kritikus yang mengupas habis buku karangan Triyanto
Triwikromo. Tak kalah penampilan bapak rektor dan wakil rektor yang membacakan
puisi dengan ciri khas mereka masing-masing.
Acara itu merupakan serangkaian bulan bahasa yang rutin di adakan
setiap tahunnya oleh Universitas PGRI Semarang. Mahasiswa dan mahasiwi
Universitas PGRI Semarang terpukau oleh penampilan bapak rektor yang
menyanyikan puisi yang di iringi petikan gitar yang di mainkan bapak rektor
sendiri.
Triyanto Triwikromo memberikan sambutan hangat hingga beliau
meneteskan air matanya karena beliau terharu, tidak menyangka karena
Universitas PGRI Semarang membuatkan
acara khusus untuk beliau. Beliau berkata bahwa menulis adalah hal yang
paling beliau suka,dan berkat menulis beliau bisa belajar banyak hal.Disini
judul yang paling menarik perhatian yaitu Bersepeda ke Neraka, judul yang tidak
biasa di dengar. Tiga kritikus mengungkapkan judul buku yang paling menarik
yaitu Bersepeda ke Neraka. Para kritikus juga mengatakan bahwa buku yang di
tulis oleh Triyanto Triwikromo ini sangat sulit di pahami, tidak cukup satu
kali baca untuk memahami buku ini.
Mahasiawa UPGRIS juga ikut serta memeriahkan acara Upgris Bersastra
itu. Penampilan yang menarik yaitu pembacaan puisi sambil di iringi penari
latar yang sangat memukau. Biscuittime, band asala UPGRIS yang sudah memiliki
album, dan launching pertama tampil di Balairung.
Pada zaman globalisasi seperti sekarang ini, tidak sedikit orang
yang mengetahui tentang sastra. Sebagian besar mereka hanya mampu menikmati
sastra, bahkan ada sebagian dari mereka acuh tentang sastra. Mereka tidak mengetahui bahwa banyak cerminan
hidup dalam sastra. Pembaca awam tidak mengetahui proses kelahiran sastra
hingga sampai ke tangan pembaca. Penciptaan sebuah karya sastra mengalami
proses yang panjang. Proses ini seringkali di abaikan oleh pembaca dan mungkin
pula dianggap sepele oleh sebagian penelaah sastra awam. Dimulai dari dorongan
pertama untuk menulis,menemukan ide,penggrapan, dan sampai akhirnya di tangan
pembaca tentu saja memerlukan semangat
yang luar biasa unruk menjadikan sebuah karya sastra.
Pradopo (2002:59) mengemukakan bahwa karya sastra secara langsung
atau tidak langsung di pengaruhi oleh pengalaman dari lingkungan pengarang
sendiri. Dalam menciptakan sebuah ide, pengarang harus memikirkan secara matang
ide apa yang mau ia kembangkan. Tak sedikit pengarang yang mengambil ide dari
sekitar lingkungan mereka. Justru terkadang ide yang berasal dari sekitar
lingkungan mereka yang menarik perhatian pembaca. Sebagian besar banyak pembaca
yang suka ide yang nge-trend di kalangan masyarakat. Oleh karena
itu, banyak pengarang yang harus berpikir keras agar karyanya dapat di nikmati
semua kalangan.
Pendapat yang di kemukakan oleh Rusyana, bahwa ada dua tujuan
pembelajaran sastra yakni untuk kepentingan ilmu sastra dan tujuan untuk
kepentingan pendidikan. Bagi pecinta sastra, perkembangan sastra sekarang ini
merupakan wujud suskes dari pengarang yang mampu membius penikmat sastra
melalui tulisan pengarang.
Kini
bagi kehidupan Triyanto Triwikromo, sastra sudah menjadi bagian dari hidupnya.
Sudah banyak buku yang beliau garap, dan tak sedikit orang yang menyukai
karya-karyanya. Bgai pecinta sastra, rela menghabiskan uangnya untuk memebeli
karangan buku dari idola mereka. Setiap idola mereka membuat karya sastra baru,
para penikmat sastra harus wajib punya. Entah apa dorongan mereka yang
mengakibatkan hal ini terjadi. Bagi para mahasiswa perguruan tinggi khususnya
mereka yang mengambil jurusan sastra, harus mengetahui perkembangan sastra dan
tak hanya itu, mereka juga harus mengetahui Sastrawan yang sudah menghasilkan buku-buku yang populer.
Para keluarga besar UPGRIS sangat menghargai sastra, sehingga tidak
bosan-bosan mengadakan acara yang berbau sastra. Oktober, bulan dimana acara
Bulan Bahasa di gelar, acara ini bukan hanya UPGRIS Bersastra tetpi juga
mengadakan berbagai acara yang melibatkan semua kalangan. Selalu mengapresiasi
orang-orang yang berprestasi dan tak hanya itu Upgris juga selalu mengadakan
acara yang menumbuhkan semangat, jiwa
sportif dan rasa kekeluargaan yang tinggi. Para mahasiswa UPGRIS di bulan
bahasa ini di tuntut untuk berkreasi se-kreatif mungkin. Sastra juga sangat
berpengaruh dalam kehidupan seseorang, jika orang tersebut memahami secara
mendalam apa itu sastra. Oleh karena itu banyak orang belajar dari karya
sastra. Dengan cara menikmati sastra, secara tidak langsung kita sudah
menghargai karya seseorang. Dari kita menghargai karya seseorang, kita banyak
belajar salah satunya menghargai sesama ciptaan Tuhan. Dari sastra kita banyak
belajar, mendapatkan ilmu. Acara yang seperti ini harus terus di
kembangkan, agar kita tidak lupa karyanyang di hasilkan oleh orang-orang hebat,
dengan begitu Sastrawan akan merasa bangga. Dengan begitu, Sastrawan juga akan
terus semangat menghasilakn karya yang baru dan tentunya selalu mengandung
makna yang berguna untuk pembaca. Dan
tak hanya itu, Karya yang di hasilkan tidak akan punah di makan waktu kalau
kita terus mengapresiasi karya sastrawan.
Nama : Sudariyanti
Lestari
NPM : 15410265
KELAS : 3F